Kenapa nak makan gaji? Pecahkan minda ! Ver 1

1

Posted by fatahensem | Posted in | Posted on 6:29 PM


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh ...


ikhwah dan akhawat yang saya sayangi , mari kita imbas kembali sirah nabawiyyah sebagai panduan dalam gerak kerja dakwah pada masa kini.

saya yakin dan percaya , majoriti dikalangan kita apabila sudah menamatkan pelajaran di mana-mana IPT/IPTS , sudah terbayang dengan pekerjaan yang bakal dipohon dengan kelayakan segulung ijazah dan sebagainya. Dengan kata mudah , memohon pekerjaan di sektor swasta mahupun kerajaan.

Ketahuilah bahawa sektor pekerjaan pada masa ini tidak memungkinkan graduan universiti bekerja dalam bidang yang dipelajarinya semasa di universiti.

Persoalannya di sini kenapa perlu makan gaji? Apabila bekerja di bawah majikan , gaji yang kita perolehi seumpama penjara yang menyekat kebebasan kita.

Kebebasan yang kita mahukan adalah kebebasan masa dan kewangan , namun jika makan gaji , kebebasan ini dikawal malah disekat.-Menurut Donald Trump dan Robert T. Kiyosaki.

Mari kita fikir-fikirkan , jika kita makan gaji , duit yang kita ada kita kawal sebaik mungkin untuk kita dan keluarga , kerana kita tidak berduit. Namun begitu infaq untuk dakwah juga menjadi keutamaan. Jika dengan gaji yang kecil , maka kecil lah pelaburan yang kita akan berikan kepada gerak kerja kita.

Ayuh, mari kita renung-renungkan , kita flashback balik , bagaimana dakwah Rasullah S.A.W , yang mana kita tahu betapa ramai jutawan-jutawan pada masa itu menginfaqkan seluruh hartanya untuk agama Allah Taala.

Jutawan-jutawan ini makan gajikah ? Saya bawakan satu satu sirah seorang jutawan Islam yang sememangnya kita tahu dengan dermawannya ....

Sebagai seorang kaya raya, ahli ekonomi yang handal, kedermawanan Ustman juga tidak bisa diragukan lagi. Sejarah mencatat bagaimana kedermawanan Ustman sangat membantu kehidupan masyarakat muslim pada masa itu. Keislaman Ustman menjadi berkah tesendiri bagi kaum muslimin. Dia selalu datang di saat orang kesusahan. Dalam suatu kisah disebutkan ketika kaum muslimin hendak menghadapi perang tabuk. Saat itu Rosulullah membutuhkan berbagai perlengkapan, logistik dan orang-orang untuk menjadi prajurit. Banyak orang yang menginginkan untuk menjadi syuhada dalam perang tersebut tetapi ditolak oleh Rosulullah karena memang kurangnya kendaraan dan logistik yang disebabkan masa paceklik yang sedang melanda jazirah Arab. Maka orang-orang tadi kembali pulang ke tempat masing-masing dengan mata yang berlinang. Pada saat itulah Rasulullah Saw naik ke atas mimbar. Beliau memuji Allah Swt, kemudian Beliau menganjurkan umat Islam untuk mengerahkan segala kemampuan mereka dan menjanjikan mereka dengan balasan yang besar.

Mengetahui adanya kesulitan tersebut, dengan segera Ustman berdiri dan berkata kepada Rosulullah Saw: “Aku akan memberikan 100 unta lengkap dengan bekalnya, ya Rasulullah!” Kemudian Rasulullah Saw turun satu anak tangga dari mimbarnya dan Beliau terus menganjurkan umat Islam untuk mengerahkan apa yang mereka punya. Maka untuk kedua kalinya Utsman berdiri dan berkata: “Aku akan memberikan 100 unta lagi lengkap dengan bekalnya, ya Rasulullah!”

Wajah Rasul Saw menjadi cerah, kemudian Beliau turun satu anak tangga lagi dari mimbar dan Beliau masih saja menyerukan umat Islam untuk mengerahkan segala yang mereka miliki. Utsman untuk ketiga kalinya berdiri dan berkata: “Aku akan memberikan 100 unta lagi lengkap dengan bekalnya, ya Rasulullah!”

Pada saat itu Rasulullah Saw mengarahkan tangannya ke arah Utsman pertanda Beliau senang dengan apa yang telah dilakukan Utsman ra. Beliau pun bersabda: “Utsman setelah hari ini tidak akan pernah kesulitan….” Belum lagi Rasulullah Saw turun dari mimbarnya, namun Utsman sudah berlari pulang ke rumah. Ia segera mengirimkan semua unta yang ia janjikan dan disertai dengan 1000 dinar emas. Begitu uang-uang dinar tadi diserahkan kepangkuan Rasulullah Saw, Beliau lalu membolak-balikkan uang dinar tersebut seraya bersabda: “Semoga Allah Swt akan mengampunimu, ya Utsman atas sedekah yang kau berikan secara terang-terangan maupun sembunyi. Semoga Allah juga akan mengampuni segala sesuatu yang ada pada dirimu, dan apa yang telah Ia ciptakan hingga terjadinya hari kiamat.”

Kedermawanan Ustman juga ditunjukkan, ketika terjadi musim paceklik pada masa pemerintahan khalfah Umar bin Khattab. Ustman menyedekahkan bahan makanan berupa gandum, minyak dan anggur kering yang diangkut dengan 1000 ekor unta bagi kaum fakir yang membutuhkan. Selain itu Utsman bin Affan juga pernah membeli sumur yang jernih airnya dari seorang lelaki Yahudi yang berasal dari kaum ghifar seharga 200.000 dirham yang kira-kira sama dengan dua setengah kg emas pada waktu itu. Sumur tersebut kemudian diwakafkan untuk kepentingan rakyat umum. Demikianlah seorang Ustman, sosok yang selalu peduli dengan kesulitan orang lain dan tanpa mengharapkan imbalan apa-apa kecuali ridho Allah SWT.

Setelah khalifah Umar bin Khattab wafat, diadakanlah musyawarah untuk memutuskan siapa khalifah yang akan melanjutkan roda pemerintahan. Musyawarah tersebut terdiri atas 6 orang sahabat yang menjadi panitia, yakni Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, Abdurahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqas, Zubair bin Awwam dan Thalhah bin Ubaidillah. Selanjutnya Abdul Rahman bin Auff, Sa’ad bin Abi Waqas, Zubair bin Awwam, dan Thalhah bin Ubaidillah mengundurkan diri hingga hanya Utsman dan Ali yang tertinggal. Diantara kedua orang sahabat ini akhirnya Ustman dipilih untuk menjadi khalifah menggantikan khalifah Umar bin Khattab. Peristiwa ini terjadi pada tahun 24 H. Pengangkatan Ustman menjadi khalifah kemudian diumumkan selesai sholat di masjid Madinah. Ustman adalah satu-satunya khalifah yang dipilih dalam usia yang sudah tua yakni 70 tahun. Dia menjadi khalifah pada saat pemerintahan Islam dalam kondisi yang cukup mapan sepeninggal khalifah Umar bin Khattab.

Banyak hal yang dilakukan Ustman bin Affan selama menjadi khalifah, diantaranya adalah melakukan perluasan masjid al-Haram (Mekkah) dan masjid Nabawi (Madinah) karena semakin ramai umat Islam yang menjalankan rukun Islam kelima (haji) dan Ustman adalah khalifah pertama yang melakukan perluasan tersebut. Ustman mencetuskan ide polisi keamanan bagi rakyatnya; membuat bangunan khusus untuk mahkamah dan mengadili perkara yang sebelumnya dilakukan di masjid; serta membangun dan mengembangkan pertanian.

Pada masa pemerintahannya, kekuatan Islam juga melebarkan ekspansi. Untuk pertama kalinya, kaum muslimin mempunyai armada laut yang tangguh. Muawiyah bin Abu Sofyan yang menguasai wilayah Syria, Palestina dan Libanon membangun armada tersebut. Sekitar 1.700 kapal dipakainya untuk mengembangkan wilayah ke pulau-pulau di Laut Tengah. Siprus, Pulau Rodhes digempur. Bahkan Konstantinopel pun sempat dikepung oleh pasukan laut kaum muslimin. Pada masa Ustman juga pernah dilakukan ekspedisi damai ke Tiongkok. Dimana saat ekspedisi tersebut dilakukan Saad bin Abi Waqqas bertemu dengan Kaisar Chiu Tang Su dan sempat bermukim di Kanton.

Selain itu sebagai seorang ekonom, bisa dikatakan kesejahteraan rakyat sangat terjamin dimasa pemerintahan Ustman. Setiap jum’at selalu ada budak yang dibebaskannya bahkan dihargai sesuai dengan berat timbangannya. Bahkan konon banyak dari rakyat Ustman yang haji hingga berkali-kali. Karena kesejahteraan terjamin, maka kondisi masyarakat menjadi aman.

Pada masa khalifah Ustman bin Affan juga dilakukan penyelesaikan pengumpulan naskah al-Quran yang telah dirintis oleh khalifah sebelumnya. Sehingga al-Qur’an yang ada di tangan kaum muslimin saat ini dikenal dengan mushaf Ustmani. Dalam menyelesaikan penulisan naskah al-Qur’an ini, Ustman menunjuk empat pencatat al-Quran yakni; Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Said bin Ash, dan Abdurrahman bin Harits, untuk memimpin sekelompok juru tulis. Kertas didatangkan dari Mesir dan Syria. Tujuh Quran ditulisnya, Masing-masing dikirim ke Mekah, Damaskus, San’a, Bahrain, Basrah, Kufah dan Madinah.

Meski banyak hal yang diraih pada masa pemerintahan khalifah Ustman bin Affan, tetapi sempat terjadi perselisihan di akhir masa pemerintahannya. Hal ini diantaranya karena adanya beberapa pejabat yang dirasa tidak sesuai dan kurang baik bagi Ustman dicopot dan diganti. Kemudian jabatan-jabatan yang kosong tersebut diganti dengan pejabat baru yang kebanyakan berasal dari keluarga besarnya. Meski pejabat baru tersebut dianggap professional tetapi tindakan sang khalifah yang terkesan nepotisme membuat ketidakpuasan sebagian masyarakat terutama pejabat-pejabat yang dipecat. Bahkan sempat ada hasutan yang anti bani Muawiyah asal keluarga besar Ustman bin Affan hingga pernah terjadi pengepungan di rumah khalifah sampai empat puluh hari karena tuntutan mereka tidak diipenuhi oleh Ustman. Situasi dari hari kehari semakin memburuk. Rumah Ustmanpun dijaga ketat oleh para sahabat seperti Ali bin Thalib, Zubair bin Awwam, Muhammad bin Thalhah, Hasan dan Husein bin Ali bin Abu Thalib. Karena kelembutan dan kasih sayangnya, Ustman hanya menanggapi pengepung-pengepung itu dengan sabar dan tutur kata yang santun.

Suatu hari tanpa diketahui oleh para pengawal dan para sahabat Ustman, masuklah kepala gerombolan yaitu Muhammad bin Abu Bakar (Gubernur Mesir yang Baru) dan membunuh Utsman bin Affan yang sedang membaca Al-Qur’an.

Sebelum terjadi pembunuhan terhadap dirinya, Utsman sempat memejamkan matanya, ia melihat Nabi Saw yang diiringi oleh kedua sahabatnya yang bernama Abu Bakar As Shiddiq dan Umar bin Khattab. Utsman mendengar Rasulullah Saw bersabda kepadanya: “Segeralah menyusul kami, ya Utsman!” Maka Utsman merasa yakin bahwa ia akan segera berjumpa dengan Tuhannya dan Nabinya.

Pagi itu Utsman bin Affab berpuasa. Ia meminta untuk dibawakan celana panjang dan kemudian ia mengenakannya karena ia merasa khawatir bahwa auratnya dapat tersingkap jika ia dibunuh oleh orang-orang durjana. Ustnab meninggal pada hari Jum’at 18 Dzul Hijjah, Ia berpulang ke pangkuan Tuhan pada saat ia sedang kehausan karena berpuasa, sementara Kitabullah terbentang di antara kedua tangannya.


sekali lagi mari tanyakan pada diri kita , jutawan-jutawan ini makan gajikah ?

ayuh ikhwah dan akhawat semua jadilah seperti mereka !

wassalam

Persaudaraan Islam: Hakikat dan Adab-Adabnya

0

Posted by fatahensem | Posted in | Posted on 6:09 AM






Persaudaraan Islam adalah persaudaraan yang istimewa. Ini adalah persaudaraan yang tidak terikat oleh kaum, kewarganegaraan, asal-usul ataupun keturunan.

Ini adalah persaudaraan yang diikat oleh tauhid. Setiap insan yang beriman kepada Allah, maka mereka semua adalah saudara untuk satu dengan yang lain.
Allah azza wajal telah memberitahu kepada kita bahawa persaudaraan sesama mukminin adalah satu perintahNya. FirmanNya: "Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.." (Al-Hujuraat: 10)

Persaudaraan Islam adalah sesama muslim sahaja. Tapi ini tidak bermakna kita boleh menterhadkan saudara seislam kita hanya dengan mereka yang rapat dengan kita, atau dengan mereka yang sama-sama dalam jemaah kita. Ini adalah satu pemahaman yang keliru.

Sesiapa sahaja yang beragama Islam adalah dikira sebagai saudara kita, dan kita wajar berakhlak dengan mereka sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Allah dan RasulNya.

Rasulullah s.a.w juga telah memerintahkan kepada kita agar kita tidak mengambil orang kafir sebagai sahabat: "Janganlah engkau bersahabat kecuali dengan orang mukmin" (Ahmad, Abu Daud, Ibnu Hibban. Lihat: Sahihul Jami')

Jadi tidak dibenarkan bersahabat dengan orang kafir, kecuali hanya sekadar kenalan, dituntut untuk berbaik-baik dan berlaku adil kepada mereka serta hanya membantu mereka untuk hal-hal yang baik sahaja. Allah ta'ala berfirman: "Allah tidak melarang kamu daripada berbuat baik dan berlaku adil kepada orang-orang yang tidak memerangi kamu kerana agama (kamu), dan tidak mengeluarkan kamu dari kampung halaman kamu; sesungguhnya Allah mengasihi orang-orang yang berlaku adil." (Al-Mumtahanah: 8)

Sesungguhnya bersikap ihsan dalam segala hal adalah satu tuntutan agama.


Adab-Adab Persaudaraan Islam

Terdapat banyak adab yang dituntut dalam Al-Quran dan As-Sunnah berkenaan hal ini. Di sini saya cuba sertakan beberapa daripadanya.


1. Khabarkan kepada saudaranya bahawa dia mencintainya kerana Allah

Berkenaan dengan hal ini, mari kita renungi sabda Rasulullah s.a.w: "Jika salah seorang daripada kamu mencintai saudaranya, hendaklah ia memberitahu kepadanya bahwa dia mencintainya" (Ahmad, Abu Daud, Al-Hakim, Ibnu Hibban. Lihat: Sahihul Jami')

Dalam hadith yang lain, ada disebut "mencintainya kerana Allah" (uhibbuhu fillah). Lihatlah akhlak yang mulia ini, cukup indah sekali! Syeikh Abdul Aziz Fathi As-Sayyid Nada memberi komen tentang hal ini: "Selayaknya seorang muslim tidak merasa segan atau malu untuk menghidupkan sunnah Nabi musthofa s.a.w, menyebarkannya dan menampakkannya di tengah-tengah manusia. Bahkan, ini merupakan amal soleh yang sangat agung, yang akan terus mengalirkan pahala baginya." (Mansuu'atul Aadaab Al-Islamiyyah)


2. Mengucapkan salam

Hal ini ada disebutkan dalam hadith berikut, telah bersabda Rasulullah s.a.w: Hak muslim atas muslim yang lainnya ada enam. Para sahabat bertanya: "Apa sahaja, wahai Rasulullah?. Berkata Rasulullah s.a.w: "Ucapkan salam jika berjumpa denganya. Jika ia mengundang kamu, maka penuhilah undangannya. Jika dia meminta nasihat, maka berilah nasihat. Jika dia bersin dan memuji Allah (mengucapkan Alhamdulillah), maka ucapkanlah tasymit (Yarhamukumullah). Jika ia sakit, maka jenguklah dia. Jika dia meninggal dunia, maka iringilah jenazahnya" (Muslim)

Ucapkan salam adalah perkara pertama yang disebut dalam enam hak muslim kepada muslim yang lainnya. Sebab itu sangatlah kita perlu membiasakan memberikan ucapan salam dan membalasnya. Ucapkan ia dengan penuh keikhlasan dan bersungguh-sungguh.



3. Memenuhi undangan

Berdasarkan hadith di atas tadi, ada disebut bahawa memenuhi undangan adalah hak yang perlu disempurnakan. Sekalipun kita berpuasa, kita harus cuba memenuhi undangan yang diterima. Rasulullah s.a.w bersabda: "Jika salah seorang daripada kamu diundang, hendaklah ia memenuhi undangan tersebut. Jika dia sedang berpuasa (sunnah), hendaklah ia mendoakan pihak pengundang. Jika dia tidak berpuasa, maka makanlah" (Muslim)

Namun demikian, sekiranya kita benar-benar tidak mampu untuk hadir, seperti tidak sihat ataupun kerana berada terlalu jauh daripada majlis undangan hingga mustahil untuk dapat hadir, sebaiknya maklumkan kepada tuan rumah tentang hal ini dan kemudian bolehlah untuk tidak hadir. Selain itu, menurut penjelasan Al-Ustaz Abu Bakr Jabir Al-Jazairi, jika majlis tersebut boleh memberi mudarat kepada agama atau tubuh badan seseorang, maka undangan tersebut boleh ditolak. (Minhajul Muslim)



4. Memberi nasihat jika diminta

Ini adalah satu tuntutan yang jelas, ia disebutkan sebagai hak yang ketiga dalam hadith enam hak muslim tadi. Jangan sesekali kita mengabaikan saudara seaagama kita yang meminta nasihat daripada kita, berilah nasihat semampunya. Jika kita betul-betul tidak mampu, atau tidak tahu apa yang boleh kita nasihatkan, bolehlah kita cuba untuk merujuk masalah saudara kita itu kepada pihak yang selayaknya, jika saudara kita itu sudi untuk berbuat demikian.



5. Mengucapkan tashmit ketika saudaranya bersin

Mengucapkan tashmit adalah hak yang keempat disebut dalam hadith enam hak muslim tadi. Tashmit bermaksud ucapan "yarhamukallah" (semoga Allah merahmati kamu). Apabila seseorang muslim bersin, dia dituntut untuk mengucapkan "Alhamdulillah". Orang yang mendengar hal itu perlu mengucapkan tashmit. Setelah itu, orang yang bersin perlu mengucapkan "yahdikumullahu wa yuslihu baalakum" (semoga Allah memberi hidayah dan memperbaikkan keadaan diri kamu). Hal ini ada disebut dalam hadith sahih, riwayat Al-Bukhari. Jika orang yang bersin tidak mengucapkan Alhamdulillah, maka tidak perlu ucapkan tashmit. Rasulullah s.a.w bersabda: "Jika seorang daripada kalian bersin kemudian memuji Allah, maka ucapkanlah tasymit kepadanya. Jika dia tidak memuji Allah, maka jangan kamu ucapkan tashmit kepadanya." (Muslim)



6. Menjenguk saudaranya ketika dia sakit

Ini adalah hak kelima disebutkan dalam hadith hak muslim tadi. Menziarahi saudara muslim yang sakit adalah satu adab yang begitu bernilai. Renungi hadith-hadith berikut: "Barangsiapa menjenguk orang sakit maka ia tetap berada di khurfatul jannah sampai dia kembali. Para sahabat bertanya: "Apa itu khurfatul jannah wahai Rasulullah?" Baginda s.a.w menjawab: 'Janaaha' (kebun yang sedang berbuah di syurga)" (Muslim)


"Tidaklah seorang muslim menjenguk saudaranya sesama muslim yang sakit di pagi hari, melainkan 70000 malaikat akan mendo'akannya sampai waktu petang. Apabila dia menjenguknya di waktu petang, maka 70000 malaikat akan mendo'akannya sampai waktu pagi. Dia pun akan mendapatkan taman di syurga" (Abu Daud, Tirmidzi dan Ibnu Majah. Menurut Tirmidzi, hadith ini hasan)

Pendek kata, orang yang menziarahi orang sakit bakal mendapatkan taman di syurga. Ada persoalan di sini, bolehkah seorang lelaki menjenguk wanita yang sakit, dan sebaliknya? Jawapannya, boleh, selagi mana tidak ada fitnah dan pertemuan itu berlangsung dengan menahan pandangan. Imam Al-Bukhari berkata: "Ummu Darda' (seorang sahabat wanita) menjenguk seorang lelaki penjaga masjid kaum Ansor". Malah dalam kitab hadithnya, Imam Al-Bukhari telah membuat bab khusus tentang hal ini, tajuknya bab "Iyaadatun Nisaa' Ar-Rajula" (Wanita menjenguk lelaki). Rasulullah s.a.w pernah menjenguk seorang sahabat wanita bernama Ummul A'la, lalu baginda berkata kepadanya: "Bergembiralah wahai Ummul A'la, sesungguhnya penyakit seorang muslim akan menghapuskan doasa-dosanya seperti api yang dapat menghilangkan kotoran emas dan perak" (Abu Daud dan At-Thabarani. Lihat: As-Sahiihah)



7. Mengiringi jenazah saudara seislam

Jangan kita abaikan sunnah ini. Jika ada sahabat kita yang meninggal dunia, maka ikutilah jenazahnya dari mandi, solat dan pengebumian. Setelah dia ditanam, kita dituntut untuk mendoakannya. Rasulullah pernah berkata kepada para sahabat setelah selesai proses pengebumian seorang sahabat yang telah meninggal dunia: "Mohonlah keampunan untuk saudaramu dan mohonlah keteguhan hati baginya, kerana sekrang dia sedang ditanya" (Abu Daud dan Al-Hakim. Disahihkan oleh Al-Hakim, dipersetujui oleh Az-Dzahabi. Lihat Sahiihul Jami')

Hadith ini juga menjelaskan kepada kita bahawa doa kepada si mati itu boleh sampai kepadanya, selagi si mati semasa hidupnya beriman kepada Allah. InsyaAllah.



8. Mendoakan saudara seagama

Berdoa untuk kebaikan saudara seislam bakal memberi manfaat yang besar untuk diri kita, ini kerana berdasarkan sabda Rasulullah s.a.w: Tidaklah seorang muslim mendoakan saudaranya yang tidak berada di sisinya, melainkan berkata para Malaikat: Dan bagi kamu seperti apa yang kamu doakan" (Muslim)

Maksudnya, kalau kita mendoakan sesuatu untuk seorang muslim yang lain, Malaikat akan mendoakan hal yang sama untuk kita. Bukankah ini sesuatu yang menguntungkan, para Malaikat mendoakan kita? Siapa tidak mahu? Oleh itu, banyakkan berdoa untuk sahabat-handai kita yang beragama Islam, semoga Allah merahmati anda atas amal yang mulia ini.



9. Saling memberi hadiah sesama muslim

Hadiah merupakan aspek khusus dalam persaudaraan yang ada ditekankan dalam Islam. Islam menggalakkan memberi hadih kepada muslim yang lain, dan melarang menolak penerimaan hadiah kecuali dalam keadaan-keadaan tertentu. Hal ini akan dibincangkan kemudian. Berkenaan dengan memberi hadiah, jelas disebut dalam hadith Rasulullah s.a.w: "Saling memberi hadiahlah sesama kamu, maka kamu akan saling mencintai" (Bukhari) Berkenaan dengan larangan menolak hadiah, ada disebut dalam hadith Rasulullah s.a.w berikut: "Penuhilah undangan orang yang mengundang dan janganlah menolak hadiah.." (Bukhari, Ahmad, At-Thabrani dan Al-Baihaqi. Lihat: Sahiihul Jami')

Namun demikian, terdapat dalam sesetengah keadaan kita dilarang untuk menerima hadiah. Para pegawai atau yang penguasa tidak boleh menerima hadiah daripada orang di bawah kuasanya. Rasulullah s.a.w bersabda: "Hadiah-hadiah yang diberikan kepada pengurus (pegawai) adalah pengkhianatan" (Ahmad dan Al-Baihaqi. Lihat: Sahiihul Jami')

Dalam satu peristiwa, seorang pegawai yang dikirim Rasulullah s.a.w datang membawa sedekah yang diserahkan oleh masyarakat. Kemudian sambil membahagikan sedekah itu, dia berkata: "Ini bahagian kamu dan ini bahagian saya". Maka dari itu, Rasululah s.a.w terus naik ke mimbar, setelah mengucapkan pujian kepada Allah baginda bersabda: "Mengapa ada pegawai yang kami kirim lalu ia berkata: 'Ini bahagian kamu dan ini adalah bagian saya'. Mengapa dia tidak duduk saja di rumah bapa dan ibunya? Apakah hadiah itu diberikan kepadanya atau tidak? Demi jiwa Muhammad yang jiwanya berada di tanganNya, tidaklah salah seorang daripada kamu menerima hadiah itu, melainkan pada hari Kiamat dia akan membawa hadiah tersebut di atas tengkuknya.." (Bukhari dan Muslim)

Pemberian hadiah kepada orang yang berkuasa atau ketua baginya boleh menjurus kepada rasuah. Jika kita dilantik sebagai orang berjawatan dalam masyarakat, tolaklah hadiah yang diterima dengan baik-baik. Sebagai orang bawahan, elakkan memberi hadiah kepada orang mempunyai kuasa ke atas kita. Di sini timbul isu, adakah boleh memberi hadiah kepada seorang guru? Sekiranya kita terikat dengan guru tersebut sebagai sebab untuk kita cemerlang peperiksaan, maka elakkan memberinya. Jika sudah tidak terikat lagi dengan guru (tamat belajar), bolehlah memberi hadiah kepadanya.

Pendek kata, elakkan memberi hadiah yang boleh memberikan keutamaan kepada diri kita, sekalipun kita tidak berniat untuknya. Kita khuatir kita melakukan rasuah, walau sengaja ataupun tidak. Rasuah menyebabkan ketidakadilan dan kezaliman kepada orang ramai, sebab itu ia harus dihindari dengan apa jua cara yang ada. Begitu juga, jika seorang guru mendapat hadiah khusus daripada seorang anak muridnya, sebaiknya hindarilah untuk menerimanya. Hanya jika semua sekali anak muridnya berpakat beramai-ramai berkongsi memberi hadiah kepadanya, hadiah ini lebih selamat untuk diterima sebab elemen kepentingan peribadi sudahpun dihapuskan. Wallahu a'lam.

Prinsipnya, jika dengan menerima atau memberi hadiah berpotensi menyebabkan berlaku ketidakadilan kepada yang orang lain, maka elakkanlah memberi atau menerima hadiah tersebut. Selain itu, kita juga dilarang untuk menerima hadiah yang syubhah ataupun hadiah yang haram, baik keharamannya kerana rasuah ataupun kerana hadiah itu sendiri (mendapat hadiah arak, bahan maksiat dan lain-lain). Hal ini tentu jelas difahami oleh semua.



10. Menutup keaiban saudaranya

Apabila kita menutup aib saudara kita, maka Allah akan menutup keaiban kita di akhirat nanti. Telah bersabda Rasulullah s.a.w: "Barangsiapa menutup keaiban saudaranya di dunia, maka Allah akan menutup aibnya di hari Kiamat" (Bukhari dan Muslim)

Adakah kita mahu keaiban kita di dunia didedahkan di akhirat nanti? Sudah tentu tidak. Oleh itu, lindungilah keaiban saudara kita yang lain. Jangan mengumpatnya, jangan hebahkan keburukannya, sembunyikan itu semua! Tetapi, sebarkanlah kebaikan saudara kita, itulah akhlak yang dituntut bagi seorang muslim.



11. Tidak memboikot saudaranya (tidak lebih tiga hari)

Hal ini jelas dilarang oleh Rasulullah s.a.w dalam hadith berikut: "Tidak halal bagi seorang Muslim memboikot saudaranya lebih dari tiga hari. Jika keduanya berjumpa, maka yang satu berpaling dan yang lain juga berpaling. Yang paling baik di antara kedua mereka adalah yang terlebih dahulu mengucapkan salam" (Bukhari dan Muslim)

Apa yang diceritakan dalam hadith ini memang cukup cantik. Ia menggambarkan dua orang muslim yang berselisih, tidak mahu bertegur-sapa, atau saling memboikot. Kemudian Rasulullah s.a.w menjelaskan, haram untuk berbuat demikian lebih daripada tiga hari. Pada pemahaman saya, ada hikmahnya diberikan tempoh tiga hari, mungkin dalam tempoh tersebut kemarahan sudah berkurangan dan mudahlah untuk mereka saling bermaafan. Hadith ini menunjukkan Rasulullah s.a.w cukup memahami emosi manusia, sebab tidak semua orang mudah reda kemarahannya. Wallahu 'alam.

Kemudian baginda menyambung lagi, yang paling baik antara dua orang yang berselisih ini adalah mereka yang terlebih dahulu memberi salam. Ini turut menggambarkan keutamaan memberi salam kepada saudara seislam, sekalipun mereka sedang berselisih faham.



12. Lain-lain

Selain ini terdapat beberapa lagi adab-adab, tetapi saya tidak mampu untuk berkongsi tentangnya di kesempatan ini. Mungkin di waktu lain, insyaAllah. Saya berdoa kepada Allah ta'ala agar memberikan kita semua kelestarian ukhwah, dan agar kita dapat saling mencintai keranaNya. Kepada Allah saya memohon ampun sekiranya terdapat sebarang kesilapan.

Wallahu a'lam


Artikel ini diambil daripada http://zuhairizainuddin.blogspot.com/