Perspektif Ekonomi Islam

0

Posted by Tanpa Nama | Posted in | Posted on 9:33 AM

(artikel http://pelitaperjalanan.blogspot.com)
D
a
lam sudut ekonomi ini, ia merupakan penulisan pertama pelitaperjalanan untuk artikel berkaitan ekonomi di sudut ini. Pelita perjalanan(penulis), tergerak untuk mencuba menjadi cahaya dikala suramnya dunia dengan propaganda Yahudi dan Nasara yang tidak akan sesekali meredhai kita, selagi mana akidah kita tidak berpaling, semoga Allah swt menjadikan semua Muslim yang taat ini cahaya yang terus menerangi dunia yang kian tua dan uzur ini.Waluapun sekecil mana sekalipun usaha kita semoga ada sinar di situ. Jangan bisa sekali membiar Muslim yang melata di dunia kini menjadi air yang cuba memadam pelita keimanan dihati-hati umat hari ini.

Melalaui artikel yang saya datangkan dengan ringkas adalah molek dibicarakan soal ekonomi ini dengan dasarnya. Artikel ringkas ini dikongsi dari ekonomis Islami Indonesia, saya menulis dengan bahasa mudah untuk rakyat Malaysia. Ketika mana umat Islam ini terus bicara soal Ekonomi itu sama hampir dengan kewangan (ekonomi Islam = perbankan Islam), maka sedih sekali pelita perjalanan(penulis) melihat gelagat penyoal pengguna Muslim apabila tidak mahu mengetahui asal mana hasilnya perbankan Islam.

Sedih bila ruangan Zaharuddin.Net(laman Islami yang dipenuhi perihal kewangan Islam) diadu domba oleh duniawi Muslim yang tidak dapat menerima pandangan Ustaz Zaharuddin yang penuh himah kiranya pada perkiraan pelitaperjalanan, ianya berlaku kesan sukelarisme ekonomi berlaku hari ini. Banyak memandang keuntungan(profit) dari kebajikan dan pahala serta keredhaan harta. Tak kurang juga sanggup menolak kerana ektremis bangsa(perniagaan Melayu) tanpa melihat halal haram sesuatu transaksi dilakukan.

Tanpa bicara panjang pelita perjalanan ingin menerangkan perihal keinginan dan kehendak(apa persamaan dan perbezaan) dalam penentuan pembelian barang oleh pengguna dalam sesuatu pasaran. Apa perspektif Islam?






VS








Kehendak
lwn Keinginan


Aktiviti ekonomi memang bermula dari kehendak fizikal manusia itu untuk dapat terus hidup (survive) di dunia ini. Segala keperluan untuk bertahan hidup akan sekuat tenaga diusahakan sendiri, namun ketika kehendak untuk hidup itu tidak dapat dipenuhi sendiri dan kehidupan manusia memang tidak bersifat individual tapi sosial (kolektif), maka terjadilah interaksi pemenuhan kehendak hidup diantara para manusia. Interaksi inilah yang sebenarnya merepresentasikan interaksi permintaan dan penawaran, interaksi pengguna dan pengeluar, sehingga muncullah pasaran sebagai wadah interaksi ekonomi ini.


Pemenuhan keperluan hidup manusia ini secara terperinci memiliki tahapan-tahapan (peringkat). Berdasarkan teori Maslow, keperluan hidup itu berawal dari memenuhi keperluan hidup yang bersifat 'kehendak dasar' (basic needs), kemudian pemenuhan keperluan hidup yang lebih tinggi secara terperinci adalah seperti keamanan, keselesaan dan kemewahan. Namun perlu difahami bahwa teori Maslow ini jelas merujuk pada lingkungan pemikiran konvensional yang menggunakan perspektif individualistik-materialistik.

Sementara dalam Islam tahap memenuhi keperluan hidup dari seseorang atau individu boleh diumpamakan seperti yang Maslow gambarkan, tapi perlu dijelaskan lebih dengan jelas bahwa kepuasan keperluan hidup setelah peringkat pertama (memenuhi kehendak dasar) akan dilakukan ketika mana jumlah keperluan kehendak dasar tadi sudah berada dikedudukan yang aman. Ertinya masyarakat (umat) sudah dipenuhi kehendak dasarnya(keperluan asas), sehingga tidak akan ada implikasi negatif(sifat mazmumah) yang bakal muncul kesan memenuhi kehendak dasar tadi yang belum sempurna wujud. Jadi keperluan peranan suatu penguasa(autoriti) atau negara dalam memastikan itu semua. Seperti yang nanti dijelaskan dalam bab selanjutnya, bahwa memang ada beberapa mekanisme dalam sistem ekonomi Islam yang tidak akan berjalan efektif jika tidak ada campur tangan negara.

Selain itu perlu difahami juga bahwa ukuran kepuasan Islam bukan hanya terbatas pada benda-benda konkrit (material), tapi juga tergantung pada sesuatu yang bersifat abstrak, seperti amal soleh yang manusia lakukan. Atau dengan kata lain, bahwa kepuasan dapat timbul dan dirasakan oleh seorang manusia muslim ketika harapan mendapat kredit point (pahala) dari Allah SWT melalui amal solehnya semakin besar. Pandangan ini tersirat dari perbahasan ekonomi yang dilakukan oleh Hasan Al Banna.[1] Beliau mengungkapkan firman Allah yang mengatakan:

“Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya zahir dan batin.” (QS. Lukman: 20)

Apa yang diungkapkan oleh Hasan Al Banna ini semakin menegaskan bahwa ruang lingkup keilmuan ekonomi Islam lebih luas dibandingkan dengan ekonomi konvensional. Ekonomi Islam bukan hanya berbicara tentang kepuasan material yang bersifat fizikal, tapi juga berbicara cukup luas tentang kepuasan material yang bersifat abstrak, pemuasan yang lebih berkaitan dengan posisi manusia sebagai hamba Allah SWT.

Umer Chapra (2000) mencuba menjelaskan maksud Imam Al Ghazali dalam mendefinisikan fungsi syariah dalam Islam. Al Ghazali mendefinisikan bahwa fungsi Syariah adalah untuk mensejahterakan seluruh manusia melalui perlindungan agama, diri manusia, akal, keturunan dan harta. Chapra menyimpulkan bahwa dengan memasukkan jiwa manusia, akal dan keturunan di dalam model-model ekonomi, adalah mungkin untuk menciptakan kepuasan yang seimbang dari berbagai kepentingan manusia.

Dari pembahasan keperluan hidup manusia dan tahapannya tadi, sebenarnya juga penting untuk di bahas apa perbedaan kehendak dan keinginan dalam ekonomi Islam yang mendapat perhatian tidak kurang besarnya. Karena kedua motif tadi akan disignifikan dengan membedakan corak atau karakteristik aktiviti ekonomi.

Islam memiliki nilai moral yang begitu ketat dalam memasukkan “keinginan” (wants) dalam motif aktiviti ekonomi. Mengapa? Dalam banyak ketentuan prilaku ekonomi Islam, dominasi motif “kehendak” (needs) menjadi nafas dalam perekonomian bernilai moral Islam ini, bukan keinginan. Apa perbezaan dan persamaannya?

Kehendak (needs) lebih didefinisikan sebagai segala keperluan dasar manusia untuk kehidupannya. Sementara keinginan (wants) didefinisikan sebagai desire (kemahuan)[2] manusia atas segala hal. Jadi ruang lingkup definisi keinginan akan lebih luas dari definisi kehendak. Contoh sederhana dalam menggambarkan perbedaan kedua kata ini dapat dilihat dalam penggunaan manusia pada air untuk menghilangkan dahaga. Kehendak seseorang untuk menghilangkan dahaga mungkin akan cukup dengan segelas air putih, tapi seseorang dengan kemampuan dan keinginannya dapat saja memenuhi kebutuhan itu dengan segelas wishky, yang tentu lebih mahal dan lebih memuaskan keinginan.

Memang diakui bahwa perbezaan keinginan dan kehendak begitu berkait diantara satu manusia dengan manusia lain. Salah satu faktor yang cukup menentukan dalam membezakan keduanya adalah menilai keduanya menggunakan perspektif kolektifitas (kebersamaan atau kejama’ahan). Dan inilah yang sebenarnya ukuran umum yang harus digunakan dalam menilai sebuah kemanfaatan dari sesuatu termasuk mengidentifikasi perbedaan antara keinginan dan kehendak. Dengan kebersamaan kita dapat menilai seperti apa keadaan lingkungan manusia di sekitar kita, sehingga dengan sangat mudah kita dapat menentukan apakah tindakan kita itu mencerminkan kehendak atau keinginan.

Namun perlu juga diingat bahwa konsep keperluan dasar dalam Islam ini sifatnya tidak statistik, ertinya keperluan dasar pelaku ekonomi bersifat dinamis merujuk pada tingkat ekonomi yang ada pada masyarakat. Sehingga pada tingkat ekonomi tertentu sebuah barang yang dulu lebih digunakan akibat motivasi keinginan, pada tingkat ekonomi yang lebih baik barang tersebut telah menjadi kehendak. Jadi ukuran yang membedakan definisi kehendak dan keinginan ini (sekali lagi) tidak statik, ia bergantung pada kondisi(suasana) perekonomian serta ukuran kemashlahatan. Dengan standard kamashlahatan penggunaan barang tertentu maka dapat saja dinilai kurang, ketika sebagian besar ummat atau masyarakat dalam keadaan susah.

Dengan demikian sangat jelas terlihat bahwa prilaku ekonomi Islam tidak didominasi oleh nilai alamiah yang dimiliki oleh setiap individu manusia, ada nilai diluar diri manusia yang kemudian membentuk prilaku ekonomi mereka. Dan nilai tersebut adalah Islam itu sendiri, yang diyakini sebagai tuntunan utama dalam hidup dan kehidupan manusia. Jadi berkaitan dengan variabel keinginan dan kebutuhan ini, Islam sebenarnya cenderung mendorong keinginan pelaku ekonomi sama dengan kehendaknya. Dengan segala nilai dan norma yang ada dalam akidah dan akhlak Islam, peleburan atau asimilasi keinginan dan kebutuhan dimungkinkan untuk terjadi.

Peleburan keinginan dengan kehendak dalam diri manusia Islam terjadi melalui pemahaman dan pengamalan akidah dan akhlak yang baik (Islamic norms). Sehingga
ketika asimilasi itu terjadi, maka terbentuklah pribadi-pribadi muslim (homo-islamicus) yang kemudian menentukan prilaku ekonominya yang asli yang mana bersumber dari Islam. Dan secara simulasi yang semulajadi, ekonomi tentu akan mengkristal menjadi sistem yang jelas berbeda dengan sistem ekonomi yang telah digunapakai saat ini.
[1] Hasan Al Banna, Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin, Intermedia, Jakarta 1997. pp. 387-409.
[2] Meskipun kata kamahuan ini juga kurang tepat untuk menggambarkan "desire".

PESANAN KAK TIK

0

Posted by Tanpa Nama | Posted in | Posted on 5:01 AM



Ciri Kecemerlangan : Individu

Kemantapan IMAN (belief) S.Q.

HARGA DIRI yang tinggi

Penghayatan MISI HIDUP yang tepat & jelas

E.Q kemahiran interpersonal

PRO-AKTIF & bertindak segera

Pengasih

Terbaik semua urusan, pelan strategik

Berterusan belajar

Disiplin diri & motivasi diri

Peningkatan berterusan Optimis

Fokus: Pekerja vs Pekerjaan


BUDI PEKERTI (personel)
Amanah
Jujur
Ikhlas
Bersih
Kemas


Perhubungan (Interpersonel)

Timbang rasa
Menghormati
Kasih sayang
Ambil berat
Mesra

PEKERJAAN (profesyen)

Daya usaha
Tekun
Rajin
Bertolong bantu
Inovatif
Disiplin Diri



ETIKA PERGAULAN DAN BATAS PERGAULAN DI
ANTARA LELAKI DAN WANITA MENURUT ISLAM.


1.Menundukkan pandangan:
ALLAH memerintahkan kaum lelaki untuk
menundukkan pandangannya, sebagaimana firman-
NYA; Katakanlah kepada laki-laki yang
beriman: Hendaklah mereka menahan
pandangannya dan memelihara kemaluannya. (an-
Nuur: 30)
Sebagaimana hal ini juga diperintahkan kepada
kaum wanita beriman, ALLAH berfirman; Dan
katakanlah kepada wanita yang
beriman: Hendaklah mereka menahan
pandangannya dan memelihara kemaluannya. (an-
Nuur: 31)
2.Menutup Aurat;
ALLAH berfirman dan jangan lah mereka
mennampakkan perhiasannya, kecuali yang biasa
nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka
melabuhkan kain tudung ke dadanya. (an-Nuur: 31)
Juga Firman-NYA; Hai nabi, katakanlah kepada
isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-
isteri orang mukmin: Hendaklah mereka
melabuhkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.
Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah

dikenali, kerana itu mereka tidak diganggu. Dan
ALLAH adalah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang. (an-Nuur: 59).
Perintah menutup aurat juga berlaku bagi semua
jenis. Dari Abu Daud Said al-Khudri r.a. berkata:
Rasulullah SAW bersabda: Janganlah seseorang
lelaki memandang aurat lelaki, begitu juga dengan
wanita jangan melihat aurat wanita.
3.Adanya pembatas antara lelaki
dengan wanita;
Kalau ada sebuah keperluan terhadap kaum yang
berbeza jenis, harus disampaikan dari balik tabir
pembatas.
Sebagaimana firman-NYA; Dan apabila kalian
meminta sesuatu kepada mereka (para wanita)
maka mintalah dari balik hijab. (al-Ahzaab: 53)
4.Tidak berdua-duaan Di Antara Lelaki
Dan Perempuan;

Dari Ibnu Abbas r.a. berkata: Saya mendengar
Rasulullah SAW bersabda: Janganlah seorang
lelaki berdua-duaan (khalwat) dengan wanita
kecuali bersama mahramnya. (Hadis Riwayat
Bukhari & Muslim)
Dari Jabir bin Samurah berkata; Rasulullah SAW
bersabda: Janganlah salah seorang dari kalian
berdua-duan dengan seorang wanita, kerana
syaitan akan menjadi ketiganya. (Hadis Riwayat
Ahmad & Tirmidzi dengan sanad yang sahih)
5.Tidak Melunakkan Ucapan
(Percakapan):

Seorang wanita dilarang melunakkan ucapannya
ketika berbicara selain kepada suaminya. Firman
ALLAH SWT; Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian
tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu
bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam
berbicara (berkata-kata yang menggoda) sehingga
berkeinginan orang yang ada penyakit di dalam
hatinya tetapi ucapkanlah perkataan-perkataan
yang baik. (al-Ahzaab: 32)
Berkata Imam Ibnu Kathir; Ini adalah beberapa
etika yang diperintahkan oleh ALLAH kepada para
isteri Rasulullah SAW serta kepada para wanita
mukminah lainnya, iaitu hendaklah dia kalau
berbicara dengan orang lain tanpa suara merdu,
dalam pengertian janganlah seorang wanita
berbicara dengan orang lain sebagaimana dia
berbicara dengan suaminya. (Tafsir Ibnu Kathir
3/350)
6.Tidak Menyentuh Kaum Berlawanan
Jenis;

Dari Maqil bin Yasar r.a. berkata; Seandainya
kepala seseorang ditusuk dengan jarum besi itu
masih lebih baik daripada menyentuh kaum wanita
yang tidak halal baginnya. (Hadis Hasan Riwayat
Thabrani dalam Mujam Kabir)
Berkata Syaikh al-Abani Rahimahullah; Dalam
hadis ini terdapat ancaman keras terhadap orang-
orang yang menyentuh wanita yang tidak halal
baginya. (Ash-Shohihah 1/448) Rasulullah SAW
tidak pernah menyentuh wanita meskipun dalam
saat-saat penting seperti membaiat dan lain-
lainnya. Dari Aishah berkata; Demi ALLAH,
tangan Rasulullah tidak pernah menyentuh tangan
wanita sama sekali meskipun saat membaiat.
(Hadis Riwayat Bukhari)

Inilah sebahagian etika pergaulan lelaki dan wanita
selain mahram, yang mana apabila seseorang
melanggar semuanya atau sebahagiannya saja
akan menjadi dosa zina baginya, sebagaimana
sabda Rasulullah SAW; Dari Abu Hurairah r.a. dari
Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya
ALLAH menetapkan untuk anak adam bahagiannya
dari zina, yang pasti akan mengenainya. Zina mata
dengan memandang, zina lisan dengan berbicara,
sedangkan jiwa berkeinginan serta berangan-
angan, lalu farji yang akan membenarkan atau
mendustakan semuanya. (Hadis Riwayat Bukhari,
Muslim & Abu Daud)
Padahal ALLAH SWT telah melarang perbuatan
zina dan segala sesuatu yang boleh mendekati
kepada perbuatan zina. Sebagaimana Firman-
NYA; Dan janganlah kamu mendekati zina,
sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan
yang keji dan jalan yang buruk. (al-Isra: 32

Israel Mungkin Kekal di Golan Sampai Bila-Bila.

1

Posted by Tanpa Nama | Posted in | Posted on 6:56 PM


Selasa, 31/07/07 -Timbalan Perdana Menteri Israel berkata bahawa negaranya mungkin akan kekal di Bukit Golan, Syria sampai bila-bila. Hayem Ramon menjelaskan dalam satu kenyataan kepada radio Israel bahawa, “kami boleh kekal di Golan sampai bila-bila…ia akan menjadi pertaruhan dengan rundingan damai dengan Syria.”Israel telah menguasai Bukit Golan pada tahun 1967 dan mengisytiharkannya sebagai wilayah jajahannya pada tahun 1981.Orang kedua dalam kerajaan Israel itu memberikan rasional terhadap perkara itu dengan berkata, “Golan dahulunya tidak bermilik (pada tahun 1967) yang mana ia bukan milik Syria, juga bukan milik Palestin. Dan kami menetap di situ kerana perjuangan kami adalah melakar sempadan kami”.Presiden Syria telah mengumumkan dalam ucapannya di dalam parlimen sempena tempoh pentadbirannya yang kedua mengenai kesediannya untuk berunding dengan Tel Aviv dengan syarat ia melalui pihak ketiga.Asad juga meminta jaminan yang mengesahkan kesediaan negara Ibri itu untuk berundur dari bukit tinggi Golan sebelum memulakan rundingan damai dengannya.Namun, Perdana Menteri Israel, Ehud Olmert menyeru Presiden Syria Sabtu lalu untuk berunding secara langsung tanpa perantaraan, serta tanpa menunggu perantaraan Amerika sambil memberi contoh pengalaman negaranya dengan Mesir dan Jordan.Presiden Israel yang baru, Shemon Perez menggesa Syria Khamis lalu supaya memasuki rundingan secara langsung dengan Israel “jika ia benar-benar mahu rundingan damai”. Note: sumber : al jazeerapenterjemah : aminsb"

Gerakan Islah Dan Tanggungjawab

4

Posted by Tanpa Nama | Posted in | Posted on 9:11 PM


Panduan awal bagi penggerak dakwah.. amalkan bacaan Al-Ma'thurat pagi dan petang kerana dirimu sentiasa terancam dengan pelbagai musibah yang anda sendiri tidak menjangkakan , sebagai mana kata-kata Dr. Hassan Din Al-Hafiz, ketika beliau di jemput dalam rancangan bersama Anita bertajuk "ilmu hitam"di saluran Astro Ria, beliau berkata antara keberkatan membaca surah al-baqarah dalam ayat Al-Quran di awal dan di akhir mampu memberi perlindungan dari ancaman syaitan laknatullah... Inilah antara kelebihan yang terdapat dalam intipati Al-Ma'thurat buat para da'ie, yang disusun khas oleh tokoh pendokong haraki gerakan di Mesir satu ketika dahulu(ikhwanulmuslim). Kitalah Muslim seluruhnya adalah da'ie. Ingatlah kaum Yahudi dan Nasrani tidak sekali redha akan umat-umat Islam selagi kita tak berpaling dan mengikut jejak meraka. Maka selagi itu para pendokong gerakan Islam yang masih teguh prinsip perjuangannya berhati-hatilah. Bermohon banyaklah kepada yang Esa, kamu tidak sesekali dihamparkan permaidani merah untuk jalan ini. Ingatlah bersyukurlah kamu andai di uji.. Tidak cukup keimanan kamu selagi tidak didatangkan ujian, berdoalah agar kita mampu dibebani ujian pelbagai. Amalkan Al-Ma'thurat sebagai pendinding dan fahamilah isinya sepenuh jiwa dan penghayatan betapa kejadian alam ini sentiasa memerlukan kita sebagai khalifah yang bertaqwa dan membentuk segala isinya dengan metod Islami. Semoga pejuang-pejuang yang bergelar Muslim ini memahami dan mengamalkan amalan Al-Ma'thurat yang merupakan khazanah ringkas yang berharga buat kita semua.... Wallahua'lam.